Suasana khidmat pengajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum Tlasih.
Bismillahirrohmanirrohim,
Setiap fajar menyingsing di ufuk timur Desa Tlasih, suasana batin di Pondok Pesantren Darul Ulum seakan menyatu dengan alam. Gemericik air wudhu dan lantunan doa yang membubung ke langit menciptakan atmosfer yang tak ternilai harganya. Di sinilah, di bawah naungan tradisi pesantren yang kokoh, proses transfer ilmu (ta'lim) bukan sekadar pertukaran informasi antara guru dan murid, melainkan sebuah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Mengawali pekan yang penuh barokah ini, kami kembali menghidupkan majelis turats, sebuah warisan intelektual Islam yang menjadi jantung pendidikan di Darul Ulum Tlasih.
Dalam kajian mendalam kitab Ta’limul Muta’allim pagi ini, pengasuh pondok mengupas tuntas sebuah bab yang sangat krusial namun sering terabaikan oleh dunia pendidikan modern: Hakekat Adab sebagai Ruh dari Ilmu. Kita sering melihat orang berilmu namun tidak memiliki keberkahan, atau orang pintar yang justru menciptakan kerusakan. Pesantren hadir untuk menjawab problematika tersebut dengan satu konsep kunci: Adab mendahului Ilmu.
Membedah Pilar Adab dalam Tradisi Santri Tlasih:
Penyucian Niat (Ikhlasul Amal): Santri diingatkan kembali bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan menuju Tuhan. Di Darul Ulum Tlasih, setiap lembar kitab yang dibuka harus didasari niat untuk menghilangkan kebodohan diri dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada Sang Pencipta. Kami menekankan bahwa ilmu yang dicari untuk kepentingan duniawi semata hanya akan membawa keletihan, sementara ilmu yang dicari karena Allah akan membawa ketenangan dan kemuliaan dunia-akhirat.
Ta’dzimul Murobbi: Jembatan Keberkahan: Hubungan antara santri dan Kyai atau Ustadz di pesantren kami dibangun di atas rasa hormat yang mendalam. Menghormati guru bukan berarti kultus individu, melainkan bentuk penghormatan terhadap pewaris para nabi. Kami mengajarkan bahwa keridaan guru adalah "kunci pembuka" bagi ilmu-ilmu yang sulit dipahami. Tanpa keridaan tersebut, ilmu mungkin akan masuk ke otak, namun ia tidak akan pernah menetap dan berbuah dalam amal perbuatan.
Memuliakan Kitab sebagai Perangkat Suci: Etika memperlakukan kitab kuning adalah bagian dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) di pesantren kami. Bagaimana seorang santri memegang kitab dengan tangan kanan, tidak meletakkannya di lantai, hingga senantiasa menjaga wudhu saat membacanya, adalah bentuk latihan kedisiplinan dan rasa hormat terhadap jerih payah para ulama terdahulu.
Melalui konsistensi dalam mengkaji kitab-kitab turats, Pondok Pesantren Darul Ulum Tlasih berikhtiar melahirkan alumni yang "alim" namun tetap merunduk, yang cerdas namun tetap santun. Kami ingin mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus mencabut akar tradisi dan akhlakul karimah yang telah diteladankan oleh Rasulullah SAW.
Semoga setiap bait hikmah yang dipelajari pagi ini menjadi lentera yang menerangi jalan para santri dalam berkhidmat kepada agama, bangsa, dan negara. Amin.